Teknologi Pertanian dan Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian

Teknologi pertanian yang berkembang semakin canggih. Perusahaan besar biasanya memanfaatkannya sebagai salah satu teknik mempercepat pekerjaan dan mengurangi tenaga manusia. Jepang merupakan salah satu negara yang paling maju dalam hal penggunaan dan pengembangan teknologi dalam bidang pertanian.

Jerman dan Amerika juga menjadi negara yang cukup perhatian dalam teknologi bidang pertanian, sedangkan Indonesia sendiri kebanyakan petani masih menggunakan teknologi tepat guna yang terlihat lebih sederhana. Walaupun sudah ada pengembangan pupuk urea dengan menggunakan model ‘slow release’ atau tidak meresap sekaligus dalam tanah, pupuk urea jenis ini tidak disubsidi. Ini artinya adalah bahwa penggunanya merupakan perusahaan besar.

Teknologi Pengolahan Pangan

Jika teknologi bidang pertanian masih begitu sederhana di banyak kalangan di Indonesia, begitu juga dengan teknologi pengolahan pangan. Banyak bahan baku yang begitu berlimpah tetapi terbuang begitu saja karena memang belum ada teknologi terjangkau biaya yang bisa terpakai.

Jepang lain lagi. Dengan penelitian yang menghasilkan inovasi tiada henti, teknologi pengolahan pangannya cukup maju. Bahkan kotoran manusia pun bisa dijadikan makanan. Air limbah menjadi pupuk itu biasa. Air limbah bisa menjadi air minum siap minum, itu yang luar biasa.

Traktor yang tidak dikemudikan oleh manusia telah berhasil dibuat di Jepang. Traktor ini dioperasikan ketika cuaca sangat tidak bersahabat dengan manusia. Pengendaliannya tentu saja melalui operasi komputer. Traktor ini bahkan bisa berhenti berjalan ketika ada manusia atau makhluk hidup berukuran besar atau ada sesuatu yang menghalangi geraknya. Penyempurnaan teknologi kian ditingkatkan.

Kalau di Indonesia banyak buah yang terbuang karena terlalu berlimpah, tidak di Jepang. Ada banyak teknologi yang bisa membantu membuat buah-buahan tahan lama. Memang ada yang menggunakan lilin aatu wax sebagai bahan pelapis, tetapi tidak sedikit yang menggunakan teknologi lain yang lebih menyehatkan.

Cara mengolah makanan pun menggunakan robot. Orang Jepang seakan tidak pernah kehabisan ide dan akal dalam mengembangkan teknologi yang dimaksudkan akan mempetmudah hidup mereka. Harga hasil dari penelitian ini memang tidak murah. Tetapi keadiktifan orang Jepang terhadap teknologi tidak menghalangi mereka untuk membeli perangkat inovasi tersebut.

Orang Indonesia Mulai Bersuara

Melalui LIPI yang dikatakan sebagai salah satu Top 100 lembaga penelitian di dunia, Indonesia mulai bersuara dalam bidang teknologi pertanian. Tapi yang dibuat oleh para peneliti LIPI mungkin bukan teknologi dengan basis program komputer seperti yang dilakukan oleh para peneliti di Jepang.

Mereka lebih mencoba membuat teknologi tepat guna, misalnya pupuk organik. Pupuk telah menjadi permasalahan seperti bumerang. Tidak digunakan, tumbuhan menjadi kerdil. Kalau digunakan, tanah akan menjadi kian rusak. Inilah masalah yang dialami dengan penggunaan pupuk berbahan kimia.

LIPI berbeda. Pupuk yang dinamakan dengan POH atau Pupuk Organik Hayati ini telah diujicobakan. Penemunya adalah Dr Sarjiya Antonius. POH ini mampu menumbuhkan padi dalam pot yang sempat ditanam secara serius oleh para siswa SMPN 209 Jakarta Timur. Uniknya, penanaman padi ini dilakukan di atap masjid sekolahan tersebut. Hal ini semakin menumbuhkan semangat bercocok tanam di hati para pelajar tersebut.

POH juga membuktikan bahwa dengan lahan terbatas dan tidak banyak air mengalir, padi bisa tumbuh dengan baik. POH pun telah dikembangkan di Ngawi dengan lahan 12 hektar. Lahan seluas itu pun telah menghasilkan panen padi yang baik. Indonesia terutama para petani ini memang membutuhkan teknologi sederhana tetapi memang terbukti baik.

Sayangnya terkadang dibutuhkan pendekatan khusus kepada orang Indonesia agar mau menggunakan dan menerapkan hasil penelitian. Mereka terkadang bersikap skeptis terhadap apa yang dihasilkan oleh anak bangsa. Untuk itu, pemerintah tidak bisa tinggal diam. Gubernur, bupati, camat, dan lurah, harus dilibatkan dalam membujuk rakyat agar bersedia menggunakan hasil yang telah diupayakan oleh para peneliti LIPI terutama bidang pertanian.

Seperti yang terjadi di Sumatera Selatan. Seorang peneliti mencoba membuat teknologi pengolahan buah duku. Tapi ternyata hasil yang didapatkan kurang memuaskan karena rasa duku memang tidak sama dengan rasa buah-buahan yang lebih terkenal dan lebih murah. Akibatnya, penelitian ini tidak banyak dikenal orang.

Pesatnya Teknologi Rekayasa Iklim

Kehebatan peneliti itu terkadang tidak mampu dipahami oleh orang awam. Dengan teknologi, berbagai hal bisa direkayasa termasuk iklim, Masih di Jepang, ada semua tanam di dalam gedung. Taman ini indah dan tumbuhan di dalamnya tumbuh subur. Ada rekayasa teknologi yang memungkinkan tumbuhan menyerap sinar matahari.

Teknologi pertanian untuk tanaman bunga ini memungkinkan tumbuhan tidak perlu diletakkan di luar ruangan. Bahkan jenis buang mawar biru pun telah benar-benar ada dan bukan hasil imajinasi fiksi. Teknologi pengembangan dengan menggunakan sel telah membuat mawar menjadi biru. Suatu warna yang dahulu hanya ada dalam cerita khayalan. Sungguh peneliti ingin membuktikan bahwa apa yang dipikirkan manusia itu bisa saja terwujud.

Artikel Menarik Lainnya